Mendukung yang Benar, Mengkritik yang Salah: Sikap Seorang Muslim terhadap Demonstrasi, Penguasa, dan Program Pemerintah
Pengantar: Haruskah Memilih Antara Mendukung atau Menentang?
Di tengah derasnya arus informasi dan perdebatan politik, kaum muslimin sering dihadapkan pada sebuah pilihan yang seolah-olah hanya memiliki dua sisi: mendukung pemerintah sepenuhnya atau menentangnya habis-habisan.
Ketika ada sebuah program pemerintah yang dianggap bermanfaat, sebagian orang merasa bahwa semua kritik terhadap program tersebut adalah bentuk kebencian. Sebaliknya, ketika ditemukan penyimpangan atau kekurangan, sebagian yang lain langsung menganggap seluruh program itu gagal dan tidak layak didukung.
Di media sosial, keadaan menjadi semakin rumit. Informasi tersebar dengan cepat, opini berseliweran tanpa batas, dan tidak sedikit orang yang menilai suatu perkara hanya berdasarkan potongan-potongan informasi yang belum tentu utuh.
Akibatnya, sikap adil menjadi sesuatu yang langka.
Padahal Islam mengajarkan prinsip yang jauh lebih kokoh daripada sekadar mengikuti arus dukungan atau gelombang penolakan. Islam mengajarkan agar seorang muslim menjadi hamba yang jujur kepada Allah, adil kepada manusia, dan tidak diperbudak oleh fanatisme kelompok maupun kepentingan sesaat.
Dalam konteks inilah penting untuk memahami bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap terhadap demonstrasi, penguasa, kebijakan pemerintah, dan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya.
Mengapa Demonstrasi Menjadi Perdebatan?
Di banyak negara, demonstrasi dianggap sebagai sarana menyampaikan aspirasi kepada penguasa.
Logikanya sederhana.
Jika ada kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat, maka masyarakat berkumpul, menyuarakan tuntutan, lalu berharap pemerintah mendengar dan melakukan perubahan.
Karena itu, secara umum demonstrasi identik dengan penolakan, protes, atau tuntutan.
Namun terkadang muncul fenomena yang membuat sebagian orang bertanya-tanya.
Ada demonstrasi yang justru dilakukan untuk mendukung suatu program yang sedang berjalan.
Di sinilah sebagian masyarakat mulai bertanya:
"Jika programnya masih berjalan dan tidak sedang dihentikan, lalu demonstrasi ini sebenarnya ditujukan kepada siapa?"
Pertanyaan seperti ini wajar muncul.
Sebab pada hakikatnya setiap aksi massa biasanya memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada pihak tertentu.
Bisa jadi untuk menunjukkan dukungan publik.
Bisa jadi untuk merespons kelompok yang menolak.
Bisa jadi untuk memperkuat posisi politik tertentu.
Atau mungkin ada alasan lain yang diketahui oleh para penyelenggaranya.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa seorang muslim tidak boleh tergesa-gesa menuduh atau menyimpulkan motif seseorang tanpa bukti yang jelas.
Islam mengajarkan tabayyun.
Bukan semua dugaan harus dipercaya.
Tidak semua prasangka layak dijadikan kesimpulan.
Bagaimana Pandangan Manhaj Ahlus Sunnah tentang Demonstrasi?
Dalam pembahasan manhaj Ahlus Sunnah sebagaimana dijelaskan oleh banyak ulama salafiyyin kontemporer, demonstrasi umumnya tidak dipandang sebagai metode syar'i dalam melakukan amar ma'ruf nahi munkar atau menasihati penguasa.
Para ulama menjelaskan bahwa metode dakwah dan perbaikan masyarakat harus dibangun di atas tuntunan syariat, bukan semata-mata mengikuti kebiasaan politik modern.
Mereka mengingatkan bahwa generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat Nabi ﷺ, tidak menggunakan demonstrasi sebagai sarana untuk memperbaiki keadaan ketika menghadapi berbagai bentuk kezaliman atau penyimpangan.
Bukan berarti para sahabat diam terhadap kemungkaran.
Bukan berarti mereka membenarkan kesalahan.
Namun mereka memiliki cara yang berbeda dalam menasihati dan memperbaiki keadaan.
Mereka lebih mengedepankan ilmu, nasihat, doa, kesabaran, dan perbaikan masyarakat dari akar-akarnya.
Karena itulah banyak ulama salafi memandang demonstrasi sebagai sarana yang tidak sesuai dengan manhaj salaf.
Terlebih lagi jika demonstrasi tersebut sering disertai teriakan emosional, provokasi, fitnah, bentrokan, atau tindakan yang mengarah kepada kekacauan.
Namun pembahasan ini tidak boleh dipahami secara dangkal.
Sebab inti persoalannya bukan sekadar berkumpul atau berjalan bersama-sama di jalan.
Yang menjadi fokus para ulama adalah metode perbaikan masyarakat yang paling sesuai dengan tuntunan syariat serta dampak yang ditimbulkan oleh metode tersebut.
Apakah Berarti Harus Diam terhadap Kesalahan?
Inilah kesalahpahaman yang sering terjadi.
Ketika sebagian ulama melarang demonstrasi, ada yang langsung beranggapan bahwa mereka mengajak umat untuk diam terhadap kemungkaran.
Padahal tidak demikian.
Ahlus Sunnah tidak pernah mengajarkan pembenaran terhadap kesalahan.
Tidak pernah mengajarkan bahwa penguasa selalu benar.
Tidak pernah mengajarkan bahwa setiap kebijakan wajib didukung tanpa kritik.
Yang diajarkan adalah menempatkan setiap perkara pada tempatnya.
Jika ada kebaikan, maka kebaikan itu diakui.
Jika ada kesalahan, maka kesalahan itu dijelaskan.
Jika ada kemungkaran, maka kemungkaran itu diingkari sesuai kemampuan dan tuntunan syariat.
Perbedaan utamanya terletak pada cara.
Islam bukan hanya mengajarkan tujuan yang baik.
Islam juga mengajarkan cara yang benar untuk mencapai tujuan tersebut.
Bahaya Fanatisme dalam Menilai Pemerintah
Salah satu penyakit yang sering muncul dalam kehidupan bermasyarakat adalah fanatisme.
Fanatisme membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk bersikap objektif.
Ketika pemerintah melakukan kebaikan, ia memuji secara berlebihan.
Ketika pemerintah melakukan kesalahan, ia berusaha mencari seribu alasan untuk membenarkannya.
Sebaliknya, ada pula fanatisme dalam bentuk yang lain.
Apa pun yang dilakukan pemerintah selalu dianggap salah.
Program yang bermanfaat dianggap buruk.
Keberhasilan dianggap pencitraan.
Kebaikan dianggap rekayasa.
Kedua sikap ini sama-sama jauh dari keadilan.
Seorang muslim tidak diperintahkan untuk menjadi penggemar penguasa.
Tidak pula diperintahkan menjadi pembenci penguasa.
Yang diperintahkan adalah menjadi pencinta kebenaran.
Kebenaran harus tetap menjadi ukuran.
Bukan perasaan.
Bukan kelompok.
Bukan kepentingan.
Bukan pula identitas politik.
Sikap yang Adil terhadap Program Pemerintah
Dalam kehidupan bernegara, pemerintah pasti memiliki banyak program.
Sebagian berhasil.
Sebagian kurang berhasil.
Sebagian mungkin sangat bermanfaat.
Sebagian mungkin mengandung kekurangan.
Sikap yang benar adalah menilai setiap program berdasarkan fakta dan manfaatnya.
Jika suatu program membantu masyarakat, maka tidak ada masalah untuk mendukungnya.
Jika suatu program membawa manfaat bagi rakyat kecil, membantu pendidikan, kesehatan, atau kesejahteraan masyarakat, maka seorang muslim dapat mengapresiasi kebaikan tersebut.
Namun dukungan tidak berarti menutup mata.
Jika dalam pelaksanaannya ditemukan penyimpangan, korupsi, manipulasi data, atau ketidakjelasan pertanggungjawaban, maka hal tersebut juga harus diakui sebagai kesalahan.
Inilah yang sering hilang dalam perdebatan publik.
Sebagian orang mengira bahwa mendukung sebuah program berarti harus membela semua aspek program tersebut.
Padahal tidak demikian.
Seseorang dapat mendukung tujuan yang baik sekaligus mengkritik pelaksanaan yang buruk.
Kedua hal itu tidak saling bertentangan.
Membedakan Dugaan dan Fakta
Di era media sosial, banyak orang terbiasa menyimpulkan sesuatu sebelum memiliki bukti yang cukup.
Sebuah foto beredar.
Sebuah video viral.
Lalu lahirlah berbagai teori.
Padahal belum tentu semuanya benar.
Islam mengajarkan kehati-hatian dalam menerima berita.
Tidak setiap informasi layak dipercaya.
Tidak setiap kabar layak disebarkan.
Tidak setiap dugaan layak dijadikan keyakinan.
Karena itu, jika muncul tuduhan bahwa suatu kegiatan didorong oleh kepentingan tertentu, maka seorang muslim seharusnya bertanya:
Apakah ada bukti?
Apakah ada data?
Apakah informasi ini berasal dari sumber yang dapat dipercaya?
Jika belum ada bukti yang jelas, maka menahan diri lebih dekat kepada keselamatan agama dan kehormatan sesama muslim.
Menjadi Umat yang Dewasa dalam Berpikir
Salah satu ciri kedewasaan adalah kemampuan melihat kenyataan secara utuh.
Tidak semua perkara hitam atau putih.
Tidak semua orang sepenuhnya benar.
Tidak semua orang sepenuhnya salah.
Kadang ada kebaikan yang patut diapresiasi.
Kadang ada kekurangan yang perlu diperbaiki.
Orang yang dewasa tidak takut mengakui kebaikan lawan.
Ia juga tidak takut mengakui kesalahan kawan.
Karena yang ia cari bukan kemenangan kelompoknya.
Yang ia cari adalah kebenaran.
Sikap seperti ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan umat.
Terutama di masa ketika masyarakat begitu mudah terpecah hanya karena perbedaan pandangan politik.
Keadilan: Prinsip yang Sering Terlupakan
Salah satu ajaran terbesar dalam Islam adalah keadilan.
Keadilan bukan hanya kepada orang yang kita sukai.
Keadilan juga berlaku kepada orang yang tidak kita sukai.
Keadilan bukan hanya ketika menguntungkan diri sendiri.
Keadilan juga harus ditegakkan ketika bertentangan dengan kepentingan pribadi.
Banyak konflik sosial sebenarnya lahir karena manusia meninggalkan prinsip ini.
Mereka melihat kesalahan lawan dengan mikroskop.
Namun melihat kesalahan kelompok sendiri dengan mata tertutup.
Mereka menuntut kejujuran dari orang lain.
Namun tidak menuntut kejujuran dari diri sendiri.
Padahal Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berlaku adil dalam setiap ucapan dan penilaian.
Keadilan adalah fondasi yang menjaga masyarakat dari kezaliman.
Keadilan pula yang menjaga seorang muslim agar tidak terseret oleh hawa nafsu dan fanatisme.
Nasihat untuk Semua Pihak
Bagi yang mendukung pemerintah, jangan sampai dukungan membuat Anda kehilangan objektivitas.
Tidak semua kebijakan pasti benar.
Tidak semua pelaksanaan program pasti bersih dari kesalahan.
Mendukung kebaikan tidak berarti membela kesalahan.
Bagi yang mengkritik pemerintah, jangan sampai kritik berubah menjadi kebencian yang membutakan.
Tidak semua kebijakan pasti buruk.
Tidak semua program pasti gagal.
Mengkritik kesalahan tidak berarti menolak semua kebaikan.
Bagi para aktivis, jagalah kejujuran.
Bagi para pendukung, jagalah keadilan.
Bagi para penguasa, jagalah amanah.
Dan bagi seluruh kaum muslimin, jagalah lisan serta hati dari kedustaan dan prasangka.
Penutup: Jadilah Pembela Kebenaran, Bukan Pembela Kelompok
Dunia politik akan terus berubah.
Penguasa datang dan pergi.
Program pemerintah silih berganti.
Perdebatan akan selalu ada.
Namun seorang muslim memiliki prinsip yang tidak berubah.
Ia mendukung yang benar karena itu benar.
Ia menolak yang salah karena itu salah.
Bukan karena siapa yang melakukannya.
Bukan karena siapa yang mendapatkan keuntungan darinya.
Bukan pula karena tekanan kelompok atau arus opini.
Sikap seperti inilah yang lebih dekat kepada keadilan dan ketakwaan.
Ketika masyarakat mampu menempatkan kebenaran di atas fanatisme, maka dialog akan menjadi lebih sehat, kritik akan menjadi lebih konstruktif, dan persatuan umat akan lebih mudah terjaga.
Pada akhirnya, tugas seorang muslim bukan menjadi pembela penguasa dan bukan pula menjadi pembela oposisi. Tugas seorang muslim adalah menjadi pembela kebenaran, sejauh yang ia ketahui, dengan ilmu, kejujuran, dan rasa takut kepada Allah Ta'ala.